Setelah pikir-pikir panjang, ternyata gak ada salahnya juga
ngikutin para leluhur penulis ternama seperti Raditya Dika, Afifah Afra, Asma
Nadiya dan sederet nama lainnya, “nulis diary” di Blog pribadi. Penting
gak penting, bagus to gak, alay to serius, yang penting ni buat catatan
pribadi. Syapa tau next 10 to 20 tahun kedepan masih bisa bernostalgia dengan
kisah-kisah hidup. Karena satu hal yang gue tau blog itu abadi (kalo mang gak
dihapus oleh mbah google).
Perkenalkan! Gue Zaid, lengkapnya Zaid Ibrahim. And, yang jelas I’m not a terrorist! Orang bilang gue gak pantes ngomong gue elo. “Coz you’re not a Jakarta people”, itu aku mereka. Kadang juga alasannya “malu ma nama tuh!”. Pokoknya, WHATEVER ja dah… hahahha.
Gue mang anak Jakarta asli, meskipun gak pernah tau kalo ditanya tentang jalanan di Jakarta. 9 tahun di Jakarta, 6 tahun di Kuningan (Jawa Barat), 3 tahun di Ciamis. Tu alasannya yang buat gue merasa wajar juga kalo gue lupa ma peta Jakarta. Karena menurut penelitian pribadi, pertumbuhan Jakarta tu 5:1 dengan pedesaan. Maksudnya dalam kurun waktu 1-10 tahun di Jakarta bisa tumbuh kurang lebih 5 real estate, sedang di pedesaan dengan kurun waktu sekian kemungkinan besar akan tumbuh 1 komplek perumahan. Dan terbukti setelah gue balik lagi ke Jakarta banyak banget bangunan yang asing di mata gue terutama real estate yang juga makin tenar. Akhirnya gue pikir wajar juga kalo gue gak inget ma peta Jakarta. Selain otak gue juga gak sehebat bapak-bapak jaman dulu yang kuat memorinya tentang lika-liku jalan dan namanya.
Hehehe…
Oya, satu lagi alasan yang gue pikir bisa buat orang lain ngecam gue untuk tidak ngaku orang Jakarta, gue juga bisa bahasa Sunda dengan nadanya. Lagi pula 9 tahun gue di Jakarta tu merupakan masa kecil gue yang terkungkung dengan kondisi rumah dan sekolah gue. Lebih asyik main bola dari pagi ampe menjelang maghrib. Gak heran juga kalo sekarang muka gue hangus begini. Dulu waktu Zaid bayi, orang bilang “duh bayi palestin”. Karena setau penelitian gue dari cerita ibu, dlu tu Zaid kecil putih tembem dan hitam lebat rambutnya, dah gitu mang mirip banget ma bayi palestina. Tapi bagaimanapun itu kan cerita dulu. Gak penting juga dibahas lagi (Cuma bikin sakit hati doang). Gue sekarang adalah orang yang nak-nak S1 bilang “Lu S2 di mana?” or “dah punya anak berapa?”. Gila setua itu apa ya muka gue???
Denger boleh denger dari kakak yang kebetulan ambil ilmu kebidanan di UNPAD, manusia tu punya yang namanya regenerasi sel. Kakak gue orangnya cantik dan umurnya masih 21 (tahun 2012), tapi regenerasi selnya seperti orang usia 36 tahun. Dan itu yang nyebabin dya keliatan sedikit tua (tapi jujur dya masih cantik, beda 180 derajat dari kenyataan diri gue). Gue sdikit merenung juga, dya yang masih cantik ja di bilang seperti orang usia 36 tahun, gimana gue yang berumur 20 tahun tapi dah di tanya berapa anaknya???
Kebayang gak si,, mungkin regenerasi sel gue kaya orang 40 to 45 tahun, dan artinya usia 20 tahun usia gue, bisa berarti 40 tahun di mata orang lain. Ckckckck
Segini dulu ya,, kita lanjut lagi di postingan selanjutnya..
Thanx..

2 komentar:
saya jadi inget pas ngeliat anak2 Gontor pertama kalinya. Mereka terlihat lebih tua dibanding usianya.
Dari situ saya nyimpulin sendiri, kalo tantangan hidup yang dialami sehari-hari itu berpengaruh terhadap penampilan, paras, seseorang.
:)
Posting Komentar